Hidup adalah perjuangan.
Nampaknya memang itulah kondisinya. Dimanapun kita berada kini, jika saja kita benar benar buka mata kita, akan kita lihat bagaimana orang2 berjuang untuk menjadi lebih baik dalam hidupnya.
Gw duduk di barisan paling belakang dari sebuah kapal roro dari pulau samosir ke ajibata, sebuah pelabuhan kecil di pinggir danau toba. Seorang ibu separuh baya, mungkin 45-50tahun dengan semangatnya menawarkan sebakul penuh kacang rebus yg dia jual dgn harga yg murah per takaran kaleng susu kosong kecil. Dia pun menawarkan dengan semangat, “kacang pak? Atau telor rebus barangkali?”. Gw menggeleng tanda tidak.
Sesaat gw perhatikan wajahnya yg sudah penuh kerut dan tidak lentur lagi. Dan telunjuk tangan kiri yg dia gunakan untuk memegang bakul besi yg dia gotong kesana kemari terluka cukup dalam di ruas kedua, mungkin karena menopang bertnya bakul besi tempat kacang rebusnya……
Tanpa menyerah kembali dia menawarkan kacang tersebut, walaupun hanya beberapa orang saja yg menawar dan tidak jarang tidak jadi membeli karena “kemahalan” atau tifak sesuai estimasi harga menurut logika pikiran generasi pengenyam pendidikan atau latarbelakang kehidupan kota.
Tujuan untuk menghidupi keluarga tidak mengurunkan niat dan usaha sang nenek tuk terus menjajakan dagangannya. Perjuangan nya untuk keluarga tidak lah sebatas niat, namun terwujud dalam perjuangan nyata yg di pampang kan didepan mata gw oleh sang Khalik…
Toba, 19des2010